Apa yang Anda Sarankan untuk DKM Assalam?

Assalam sudah berdiri sekian tahun sejak 2006 melalui perjalanan yang tidak mudah. Banyak ujian dan cobaan yang dialami dalam proses berkembang hingga saat ini. Melalui postingan ini silakan Bapak/Ibu warga dan masyarakat memberikan masukan bagaimana upaya pemberdayaan DKM dan ummat di lingkungan? Apa yang mestinya dilakukan oleh DKM? Bagaimana seharusnya DKM? Ayo…kita dukung DKM untuk lebih mampu berperan bagi ummat ini. Allohu Akbar.

2 Responses

  1. Udo Sumaniak 19 Agustus jam 21:17
    Adab-Adab berpuasa
    Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
    Tuesday, 24 April 2007
    Dianjurkan bagi orang yang akan melaksanakan ibadah puasa untuk memperhatikan adab-adab berikut ini :

    a. Sahur
    Dari Anas r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Bersahurlah ; karena di dalam santap sahur itu terdapat barakah.” (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari IV: 139 no:139 no:1923, Muslim II : 770 no:1095, Tirmidzi II: 106 no: 703, Nasa’i IV:141 dan Ibnu Majah I: 540 no:1690).

    Sahur, dianggap sudah terealisir, walaupun, berdasar hadits dari Abdullah bin Amr r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Bersahurlah, walaupun sekedar setegukan. “(Shahi: Sahihul Jami’us no:2945 dan Sahih Ibnu Hibban VIII : 224 no:884).

    Dianjurkan mengakhirkan santap sahur, sebagaimana ditegaskan dalam hadits, dari Anas dari Zaid bin Babit r.a. ia berkata: Kami pernah bersantap sahur bersama Nabi saw. , kemudian beliau mengerjakan shalat, lalu aku bertanya (kepada Beliau), “Berapa lama antara waktu adzan dengan waktu sahur?” Jawab Beliau, “Sekedar membaca lima puluh ayat. “(Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari IV: 138 no 1921, Muslim II : 771 no:1097, Tirmidzi II: 104 no: 699, Nasa’i IV: 143 dan Ibnu Majah I:540 no:1694).

    Apabila kita mendengar suara adzan, sementara makanan atau minuman berada di tangan, maka makanlah atau minumlah. Ini mengacu pada hadits, dari Abu Hurairah r.a. bawah Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seorang diantara kamu mendengar suara adzan (shubuh), sedangkan bejana berada ditangannya, maka janganlah ia meletakkannya (lagi) hingga ia memenuhi kebutuhannya.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 607,’Aunul Ma’bud VI:475 no:2333, Mustadrak Hakim I :426).

    b. Menahan diri agar tidak melakukan perbuatan yang sia-sia, perkataan kotor dan semisalnya yang termasuk hal-hal yang bertentangan dengan ma’na puasa
    Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seorang diantara kamu bepuasa, maka janganlah mengeluarkan perkataan kotor, jangan berteriak-teriak dan jangan pula melakukan perbuatan jahiliyah; jika ia dicela atau disakiti oleh orang lain, maka katakan, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa,” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IV:118 no:1904, Muslim II:807 no:163 dan 1151, dan Nasa’i IV:163).

    Dari (Abu Hurairah) r.a. bawah Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan pelaksananya, maka tidak ada gunanya ia meninggalkan makan dan minumnya.” (Shahih: Mukhtashar Bukhari no:921), Fathul Bari IV:116 no:1903, ‘Aunul Ma’bud VI: 488 no:2345, Tirmidzi II:105 no:702).

    c. Rajin melaksanakan berbagai kebajikan dan tadarus al-Qur’an
    Dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata, “Adalah Nabi saw. orang yang paling dermawan dalam hal kebajikan, lebih dermawan lagi manakal Beliau berada dalam bulan Ramadhan ketika bertemu dengan (malaikat) Jibril. (Malaikat Jibril’alaihisalam bertemu dengan beliau setiap malam pada bulan Ramadhan sampai akhir bulan, Nabi saw. membaca al-Qur’an di hadapannya. Maka apabila Beliau bertemu dengan (Jibril) beliau menjadi orang yang lebih dermawan dalam hal kebaikan daripada angin kencang yang dikirim.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IV:30 no:6, dan Muslim II: 1803 no: 2308).

    d. Segera Berbuka
    Dari Sahl bin Sa’ad r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Orang-orang (umat Islam) senantiasa berada dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IV:198 no:1957, Muslim II: 771 no: 1098 dan Tirmidzi II:103 no:695).

    e. Berbuka seadanya sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut ini:
    Dari Anas r.a. ia berkata, “Adalah Rasulullah saw. biasa berbuka dengan beberapa biji ruthab (kurma masak yang belum jadi tamr) sebelum shalat maghrib; jika tidak ada (juga), maka Beliau minum beberapa teguk air.” (Hasan Sahihi: Shahih Abu Daud no:2065, ‘Aunul Ma’bud VI:481 no:2339 dan Tirmidzi II:102 no:692).

    f. Membaca do’a ketika akan berbuka sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits berikut :
    Dari Ibnu Umar r.a. berkata, “Adalah Rasulullah saw. apabila akan berbuka mengucapkan, DZAHABA ZHAMA-U WABTALLATIL ‘URUUKU, WA TSABATAL AJRU INSYAA-ALLAH (Telah hilang rasa haus dahaga dan telah basah urat tenggorokan, dan semoga tetaplah pahal (bagi yang berbuka) insya Allah).” (Hasan Shahih Abu Daud no:2066, ‘Aunul Ma’bud VI: 482 no:2340).

    Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm.399 — 403.
    Terakhir kali diperbaharui ( Thursday, 06 December 2007 )

    Rukun Shiyam
    Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
    Monday, 23 April 2007
    a. Niat, ini didasarkan pada firman Allah SWT, “Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (dalam menjalankan) agama dengan lurus.”(Al-Bayyinah:5). Dan sabda Nabi saw., “Sesungguhnya segala amal bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang telah diniatkannya.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari I:9 no:1, Muslim III:1515 no: 1907, ‘Aunul Ma’bud VI: 284 no:2186, Tirmidzi III: 100 no: 1698, Ibnu Majah II: 1413 no:4277 dan Nasa’i I:59).
    Niat yang tulus ini harus ditancapkan dalam hati sebelum terbit fajar shubuh setiap malam. Hal ini ditegaskan dalam hadits dari Hafshah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang tidak menetapkan niat puasa sebelum fajar (shubuh), maka tiada puasa baginya.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 6538, ‘Aunul Ma’bud VII: 122 no: 2437, Tirmidzi :116 no: 726, dan Nasa’i IV: 196 dengan redaksi yang hampir sama).
    b. Menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa, sejak terbitnya fajar sampai dengan terbenamnya matahari.
    Allah Ta’ala berfirman, “Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.(Al-Baqarah: 187).

    HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA
    Yang membatalkan puasa ada enam perkara :
    a dan b. Makan dan minum dengan sengaja.
    Oleh karena itu, jika makan atau minum karena lupa, maka yang bersangkutan tidak wajib mengqadha’nya dan tidak perlu membayar kafarah.
    Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa lupa, padahal ia berpuasa, lalu makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya ia diberi makan dan minum oleh Allah.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no:6573, Muslim II,809 no:4455 dan lafadz ini baginya, Fathul Bari IV: 155 no: 1923, Ibnu Majah I:535 no: 1673 dan Tirmidzi II: 441 no:717)
    c. Muntah dengan sengaja
    Maka dari itu, kalau seseorang terpaksa muntah, maka ia tidak wajib mengqadha’nya dan tidak usah membayar kafarah.
    Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa yang terpaksa yang terpaksa muntah, maka tidak ada kewajiban qadha’ atasnya; dan barangsiapa yang muntah dengan sengaja, maka haruslah mengqadha!” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 6243, Tirmidzi II: 111 no: 716, ‘Aunul Ma’bud VII: no:2363 dan Ibnu Majah I : 536 no: 1676).
    d dan e. Haidh dan nifas, walaupun itu terjadi menjelang waktu menghrib.
    Hal ini berdasar ijma’ ulama’

    f. Jima’, yang karenanya orang yang bersangkutan wajib membayar kafarah sebagaimana termaktub dalam berikut ini :

    Dari Abu Hurairah r.a. berkata, tatkala kami sedang duduk-duduk di samping Nabi saw., tiba-tiba ada seorang sahabat bertutur, “Ya Rasulullah saya celaka,” Beliau bertanya, “Ada apa?” Jawabnya, “Saya berkumpul dengan isteriku, padahal saya sedang berpuasa (Ramadhan), “Maka sabda Rasulullah saw., “Apakah engkau mampu memerdekakan seorang budak?” Jawabnya, “Tidak” Beliau bertanya (lagi), “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Jawabnya, “Tidak” Beliau bertanya (lagi), “Apakah engkau mampu memberi makan enampuluh orang miskin? “Jawabnya, “Tidak”. Maka kemudian Nabi saw. diam termenung ketika kami sedang duduk termenung, tiba-tiba dibawakan kepada Nabi sekeranjang kurma kering. Lalu beliau bertanya, “Di mana orang yang tanya itu?” Jawabnya, “Saya (ya Rasulullah). “Sabda Beliau (lagi), “Bawalah sekeranjang kurma ini, lalu shadaqahkanlah (kepada orang yang berhak).” Maka (dengan terus terang) laki-laki itu berujar, “Akan kuberikan kepada orang yang lebih fakir daripada saya ya Rasulullah ? sungguh, di antara dua perkampungan itu tidak ada keluarga yang lebih fakir daripada keluargaku,” Maka kemudian Rasulullah saw. tertawa hingga tampa gigi taringnya. Kemudian beliau bersabda kepadanya, “(Kalau begitu), berilah makan dari sekeranjang kurma ini kepada keluargamu.” (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari IV : 163 no: 1936, Muslim II: 781 no: 111, ‘Aunul Ma’bud VII : 20 no: 2373, Tirmidzi II : 113 no: 720 dan Ibnu Majah I : 534 no: 1671).

    Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm.396 — 396.
    Terakhir kali diperbaharui ( Thursday, 06 December 2007 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: